Minggu, 13 Mei 2012

Rumah Angker

 by Tiara R

Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku baru saja membereskan semua isi koperku dan menaruhnya di lemari dan aku telah berkeliling rumah untuk melihat keadaan rumah ini. Ya, keluargaku baru saja pindah ke rumah tua yang lumayan besar. Ayah dan ibuku benar-benar suka dengan rumah baru kami ini. Mereka menganggap rumah ini benar-benar unik dan punya nilai seni yang tinggi. Tapi itu menurut mereka. Kurasa rumah ini benar-benar aneh. Di dekat pintu masuk terdapat ukiran berbentuk ular berkepala singa, sedangkan di pintu belakang ukirannya berbentuk seperti kucing dengan taring yang tajam. Aku sungguh tidak mengerti kenapa ayah dan ibuku sangat mengagumi rumah ini.
            ”Rio... Kau tidak pergi keluar untuk mencoba berkenalan dengan tetangga barumu?” teriak ibuku dari lantai bawah.
            ”Ya, sebentar Bu. Aku ganti pakaian dulu,” jawabku dengan uring-uringan.
            Aku bangkit dari tempat tidur dan mengganti pakaianku yang penuh keringat. Rasanya malas sekali keluar rumah apalagi aku belum punya teman di sekitar sini. Tapi apa boleh buat. Akhirnya aku pun menuju ke taman sambil memandangi sekeliling mencoba mencari anak seusiaku.
            ”Hai!” seorang anak menyapaku dengan ramah.
            ”Hai!” aku balas menyapanya.
            ”Perkenalkan namaku Alvin. Kau tetangga baru ya?,” anak itu memperkenalkan diri. Giginya yang berkawat menghiasi senyumnya yang menawan.
            ”Iya, aku baru pindah. Namaku Rio. Aku harap kita bisa menjadi teman baik,” jawabku.
            ”Omong-omong kamu sekolah dimana?” tanyanya.
            ”Mulai besok, aku akan bersekolah di SMP Budi Pekerti,” jawabku.
            ”Wow, kebetulan sekali. Aku juga sekolah di sana.” jawabnya.
            Keesokan harinya, Alvin menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Untunglah aku sekelas dengan Alvin jadi aku tidak terlalu canggung di sekolah baruku.
            ”Hai, Rio!” seorang anak bernama Ozy menyapaku.
            ”Hai!” balasku.
            ”Omong-omong kau tinggal dimana?” tanya anak itu.
            ”Aku tinggal di Jalan Kesemek blok B,” jawabku.
            ”Oh ya? Apa kau tahu di jalan itu ada sebuah rumah angker? Katanya rumah itu tua dan sedikit aneh,” tanya Ozy.
            ”Benarkah? Aku baru tahu. Tapi, dimana letak rumah angker yang kau maksud itu?” tanya Alvin penasaran, begitupun aku.
            ”Katanya sih, rumah itu ada di ujung jalan.”
            ”Apa kau tahu rumah angker itu berada di seberang kiri atau kanan?” tanyaku.
            ”Kalau tidak salah, di seberang kanan. Ya, aku yakin di seberang kanan,” jawab Ozy yakin.
            Percakapan di sekolah tadi sungguh membuatku cemas. Rumahku terletak di ujung jalan berseberangan dengan rumah angker itu. Kupandangi rumah itu dengan sedikit rasa ngeri. Rumah itu seperti sedang menatapku dengan penuh rasa marah. Bulu kudukku merinding. Lalu cepat-cepat kukayuh sepedaku masuk ke halaman rumah.
* * *
            ”Rio, hari ini ayah dan ibu akan berangkat ke rumah saudara ayah yang sedang sakit. Mungkin kami akan tinggal beberapa hari di sana. Jadi, kamu tolong jaga rumah ya,” kata ibuku sambil menaruh segelas susu di meja makan.
            ”Apa?” aku hampir memuntahkan roti di mulutku. ”Ayah dan ibu yakin akan  membiarkan aku sendirian di rumah baru ini?” tanyaku.
            ”Ya, bagaimana lagi. Kamu kan harus sekolah jadi tidak bisa ikut. Kalau ada apa-apa kamu kan bisa minta bantuan ke tetangga sebelah atau seberang rumah kita. Kami sudah memberitahu mereka tadi,” ayahku menambahkan.
            Apa??? Tetangga seberang rumah? Aku baru tahu rumah itu ada penghuninya, tapi siapa mereka? Apakah mereka juga manusia?
            Lonceng berbunyi, semua siswa mulai berhamburan ke luar kelas. Rasanya aku malas sekali pulang hari ini. Kukayuh sepedaku dengan lemas. Sampai akhirnya aku tiba di depan rumahku. Dan di depan rumah angker itu. Aku berusaha menghilangkan rasa takutku dan mulai berpikiran bahwa rumah itu bukan rumah angker seperti yang teman-temanku katakan. Namun, pikiran itu sekejap hilang ketika aku melihat seseorang sedang mengintip dari jendela atas rumah itu. Tubuhnya kurus dan tatapannya tajam seperti elang. Dia menyeringai ke arahku. Kakiku langsung lemas, rasanya sulit sekali untuk mengayuh sepedaku menuju halaman rumah. Tapi, kupaksakan kakiku dengan sekuat tenaga untuk tetap mengayuh sepeda dan akhirnya berhasil! Aku langsung masuk rumah dan mengunci semua pintu dan jendelanya.
            Keesokan paginya kuceritakan semua yang kualami kemarin pada Alvin.
            ”Benarkah? Kau melihat seseorang di rumah itu? Jangan-jangan dia adalah salah satu hantu penunggu rumah angker itu. Hhiii...” Alvin berlagak seperti ketakutan.
            ”Ya, sungguh aku melihatnya. Tapi apa kau yakin rumah itu benar-benar angker? Ayah dan ibuku bilang bahwa kemarin mereka sudah sempat ngobrol dengan pemilik rumah itu. Kupikir, penghuninya cuma orang biasa,” kataku meyakinkan Alvin, padahal diriku sendiri tidak yakin.
            ”Kurasa kau benar. Mungkin cerita bahwa rumah itu angker hanya karangan teman-teman saja. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?”
            ”Bagaimana caranya?” tanyaku.
            ”Malam ini aku akan menginap di rumahmu dan akan kita cari tahu siapa sebenarnya penghuni rumah itu. Bagaimana? Apa kau setuju?” tanya Alvin begitu semangat.
            ”Baiklah,” akhirnya aku pun menyetujuinya.
* * *
            Malam pun tiba. Aku dan Alvin pun berencana mengintip rumah itu. Ya, hanya mengintip. Kami pun mulai masuk ke halaman rumah itu. Rumah itu benar-benar gelap, hanya ada satu lampu yang menyala yaitu lampu di ruang atas. Sepertinya, penghuninya sedang tidak ada di rumah.  Rumah itu kelihatan bobrok, atap kayunya sudah lapuk, cat rumahnya pun sudah pudar. Kami berjalan di halaman rumah itu yang dipenuhi rumput-rumput tinggi. Sepertinya halaman ini tak pernah dibersihkan, pikirku. Kami menuju pintu belakang rumah.
            ”Hei, sepertinya pintu ini tidak terkunci. Tak ada salahnya kan kalau kita masuk sekedar untuk melihat-lihat,” Alvin berkata sambil mengintip ke dalam rumah.
            ”Kau sudah lupa ya? Kita kan ke sini cuma untuk mengintip, bukan untuk masuk diam-diam. Kita bisa disangka maling kalau masuk,” jawabku dengan setengah ketakutan.
            ”Kau tidak penasaran? Kita akan tahu lebih banyak tentang rumah ini kalau kita melihat isinya. Kalau aku masuk, apa kau berani menunggu di luar sendirian?” Alvin berkata seolah-olah mengejekku.
            ”Baiklah, tapi kita harus segera pulang setelah yakin bahwa rumah ini benar-benar tidak angker.”
            Alvin menyalakan lampu dapur. Piring-piring tampak tersusun rapi di raknya. Sekeranjang buah segar ada di atas meja makan berbahan kayu. Lalu kami masuk mengendap-endap ke ruang tengah. Tampak televisi 21 inch terletak di atas meja, pigura-pigura terpajang di dinding kayu. Dan kulihat sebuah foto seorang lelaki tua berbadan kurus. Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya. Ya, kemudian aku ingat. Lelaki tua itu adalah orang yang pernah kulihat beberapa kali sedang mengintip dari jendela atas rumah ini. Tatapannya yang tajam membuatku takut setengah mati. Tiba-tiba Alvin menjatuhkan sebuah pigura sehingga kacanya hancur berkeping-keping.
            “Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.
            ”Aku benar-benar tidak sengaja,” jawab Alvin ketakutan.
            Namun, percakapan kami terhenti setelah kami mendengar suara langkah kaki di tangga. Langkah kaki yang berat. Aku dan Alvin saling menatap. Kami ketakutan. Jantungku serasa berhenti berdetak, kakiku lemas, bibirku kelu. Langkah kaki itu semakin dekat. Kulihat bayangan kaki yang kurus sedang menuruni tangga  ke arah kami.            ”Bagaimana ini?” tanya Alvin, wajahnya pucat.
            ”Satu-satunya cara adalah kita harus lari dari rumah ini,” lidahku terasa sulit untuk berkata-kata.
            Aku dan Alvin langsung berlari secepat kilat menuju pintu belakang. Kutarik kenop pintu dan kuputar beberapa kali. Sial! Pintunya macet. Kakiku makin terasa lemas, wajah Alvin tampak pucat seperti mayat. Langkah kaki itu makin terasa dekat.
            ”Ayo kita dobrak pintu ini,” ajakku. Kami berusaha sekuat tenaga mendobrak pintu itu agar kami bisa keluar dari rumah menyeramkan ini. Dan akhirnya kami berhasil. Badanku terasa sakit, tapi itu tidak mengapa dibandingkan harus terkurung di rumah menyeramkan itu. Kami berlari keluar dari rumah itu, tapi sepertinya langkah kaki itu terus mengikuti kami sampai keluar rumah. Kami terus berlari ketakutan menuju rumahku di seberang. Kami ketakutan sampai tidak berani menoleh ke belakang. Kurogoh saku celanaku untuk mengambil kunci rumah. Tapi, nihil. Kunci rumahku tak ada di saku celanaku.
            ”Cepat buka pintunya Rio!!” Alvin berteriak.
            ”Kuncinya hilang. Tidak kutemukan di sakuku. Bagaimana ini?” aku menjawab dengan panik.
            ”Ayo kita coba lewat pintu belakang,” ajak Alvin.
            Kuputar kenop pintu beberapa kali dan tampaknya sama seperti pintu di rumah angker itu, macet. Alvin mencobanya juga dengan keras dan berhasil dibuka olehnya. Kami langsung masuk ke rumahku. Tapi belum sempat kami bernapas lega, tiba-tiba pintu itu terbanting hingga menjepit lengan Alvin.
            ”Awww...” Alvin meronta kesakitan.
            Aku segera membawanya ke kamar dan mengambil kotak P3K untuk mengobatinya.
* * *
            Keesokan paginya, ayah dan ibuku pulang. Mereka belum tahu apa yang kami alami semalam. Mereka terkejut melihat tangan Alvin terluka.
            ”Apa yang terjadi semalam Rio?” tanya ibuku dengan penuh rasa cemas.
            “Tangan Alvin terjepit karena pintu belakang terbanting,” jawabku.
            ”Oh, maafkan kami Nak. Ibu lupa memberi tahu kalau pintu belakang itu rusak dan Ayah belum sempat memperbaikinya,” ibu memberitahu kami.
            ”Tidak apa-apa Tante, sekarang sudah agak mendingan kok,” jawab Alvin.
            ”Kalian sudah sarapan?” tanya ibuku.
            ”Belum.”
            Kami menuju ruang makan dan menunggu ibuku menyiapkan sarapan untuk kami. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
            ”Tunggu sebentar,” ayahku bergegas menuju pintu depan.
            ”Oh, Pak Freddy. Ada keperluan apa Pak?” tanya ayahku.
            ”Maaf mengganggu pagi-pagi. Saya ingin mengembalikan kunci rumah Anda. Sepertinya anak Anda dan temannya menjatuhkannya di rumah saya semalam,” lelaki tua itu berkata sambil menyerahkan sebuah kunci rumah.
            ”Oh, apa yang terjadi semalam Pak?”
            ”Anak anda dan temannya kemarin malam masuk ke rumah saya lewat pintu belakang yang tidak terkunci. Mungkin mereka menyangka rumah saya itu angker. Biasa, anak-anak remaja zaman sekarang selalu ingin tahu,” jawab lelaki tua itu dengan ramah.
            Ayah memanggil aku dan Alvin dan kami pun meminta maaf atas kejadian kemarin malam kepada Kakek Freddy. Ternyata, rumah itu dihuni oleh Kakek Freddy, dia adalah seorang keturunan Belanda. Dia tidak suka keluar rumah, mungkin karena tubuhnya yang sudah renta. Tapi sekarang aku lega karena rumah itu tidak angker. Ya, aku dan Alvin telah membuktikannya sendiri.
* * *
            Keesokan paginya di sekolah, aku dan Alvin menceritakan petualangan kami malam itu.
            ”Jadi, rumah itu tidak angker sama sekali. Rumah itu dihuni oleh seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Kakek Freddy,” aku memberitahu teman-temanku yang lain.
            ”Ya, benar. Kakek Freddy jarang keluar rumah karena kondisi tubuhnya yang sudah renta. Tapi, ternyata dia orang yang sangat ramah,” Alvin menambahkan.
            ”Semua orang juga tahu tentang Kakek Freddy. Rumahnya memang tidak angker. Kau baru tahu ya Alvin? Kau kan sudah lama tinggal di sini,” ucap salah seorang anak cewek bernama Nova.
            ”Alvin itu memang tidak tahu apa-apa. Hahaha,” Ozy tertawa.
            ”Tapi kau kan kemarin bilang bahwa rumah angker itu ada di ujung jalan seberang kanan? Kau ingat kan Ozy?” tanyaku.
            ”Apa? Ozy berkata begitu?” tanya Nova heran. ”Hei, Ozy! Kamu bisa gak sih membedakan yang mana kanan dan mana kiri? Rumah angker itu berada di seberang kiri. Ya, di seberang rumah Kakek Freddy. Rumah tua yang penuh dengan ukiran-ukiran aneh itu,” Nova menjelaskan.
            ”Hehe, maaf, maaf... Ya, kau benar Nova. Rumah yang berada di seberang kiri lah yang angker. Semua orang juga tahu, rumah itu dipenuhi hantu. Hantu-hantu yang penuh kemarahan,” jawab Ozy.
            “Ya benar. Tak ada seorang pun yang selamat dalam rumah itu. Hhiiii...” Nova menambahkan.
            Aku dan Alvin terkesiap. Kakiku lemas, jantungku rasanya mau copot, dan tiba-tiba aku teringat perkataan ibu dan ayahku beberapa hari yang lalu bahwa mereka ingin tinggal di rumah baru kami untuk selamanya. Selamanya...
            ”Hei Rio! Apakah kami boleh berkunjung ke rumahmu hari ini? Kami ingin tahu dimana kamu tinggal. Boleh ya?” tanya Ozy.
* * *
Inspired by Goosebumps by R.L.Stine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar