by Tiara R
Kuhempaskan tubuhku di atas
tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku baru saja membereskan semua
isi koperku dan menaruhnya di lemari dan aku telah berkeliling rumah untuk
melihat keadaan rumah ini. Ya, keluargaku baru saja pindah ke rumah tua yang
lumayan besar. Ayah dan ibuku benar-benar suka dengan rumah baru kami ini.
Mereka menganggap rumah ini benar-benar unik dan punya nilai seni yang tinggi.
Tapi itu menurut mereka. Kurasa rumah ini benar-benar aneh. Di dekat pintu
masuk terdapat ukiran berbentuk ular berkepala singa, sedangkan di pintu
belakang ukirannya berbentuk seperti kucing dengan taring yang tajam. Aku
sungguh tidak mengerti kenapa ayah dan ibuku sangat mengagumi rumah ini.
”Rio...
Kau tidak pergi keluar untuk mencoba berkenalan dengan tetangga barumu?” teriak
ibuku dari lantai bawah.
”Ya,
sebentar Bu. Aku ganti pakaian dulu,” jawabku dengan uring-uringan.
Aku
bangkit dari tempat tidur dan mengganti pakaianku yang penuh keringat. Rasanya
malas sekali keluar rumah apalagi aku belum punya teman di sekitar sini. Tapi
apa boleh buat. Akhirnya aku pun menuju ke taman sambil memandangi sekeliling mencoba
mencari anak seusiaku.
”Hai!”
seorang anak menyapaku dengan ramah.
”Hai!”
aku balas menyapanya.
”Perkenalkan
namaku Alvin. Kau tetangga baru ya?,” anak itu memperkenalkan diri. Giginya
yang berkawat menghiasi senyumnya yang menawan.
”Iya,
aku baru pindah. Namaku Rio. Aku harap kita bisa menjadi teman baik,” jawabku.
”Omong-omong
kamu sekolah dimana?” tanyanya.
”Mulai
besok, aku akan bersekolah di SMP Budi Pekerti,” jawabku.
”Wow,
kebetulan sekali. Aku juga sekolah di sana.” jawabnya.
Keesokan
harinya, Alvin menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Untunglah aku
sekelas dengan Alvin jadi aku tidak terlalu canggung di sekolah baruku.
”Hai,
Rio!” seorang anak bernama Ozy menyapaku.
”Hai!”
balasku.
”Omong-omong
kau tinggal dimana?” tanya anak itu.
”Aku
tinggal di Jalan Kesemek blok B,” jawabku.
”Oh
ya? Apa kau tahu di jalan itu ada sebuah rumah angker? Katanya rumah itu tua
dan sedikit aneh,” tanya Ozy.
”Benarkah?
Aku baru tahu. Tapi, dimana letak rumah angker yang kau maksud itu?” tanya
Alvin penasaran, begitupun aku.
”Katanya
sih, rumah itu ada di ujung jalan.”
”Apa
kau tahu rumah angker itu berada di seberang kiri atau kanan?” tanyaku.
”Kalau
tidak salah, di seberang kanan. Ya, aku yakin di seberang kanan,” jawab Ozy
yakin.
Percakapan
di sekolah tadi sungguh membuatku cemas. Rumahku terletak di ujung jalan
berseberangan dengan rumah angker itu. Kupandangi rumah itu dengan sedikit rasa
ngeri. Rumah itu seperti sedang menatapku dengan penuh rasa marah. Bulu kudukku
merinding. Lalu cepat-cepat kukayuh sepedaku masuk ke halaman rumah.
* * *
”Rio,
hari ini ayah dan ibu akan berangkat ke rumah saudara ayah yang sedang sakit.
Mungkin kami akan tinggal beberapa hari di sana. Jadi, kamu tolong jaga rumah
ya,” kata ibuku sambil menaruh segelas susu di meja makan.
”Apa?”
aku hampir memuntahkan roti di mulutku. ”Ayah dan ibu yakin akan membiarkan aku sendirian di rumah baru ini?”
tanyaku.
”Ya,
bagaimana lagi. Kamu kan harus sekolah jadi tidak bisa ikut. Kalau ada apa-apa
kamu kan bisa minta bantuan ke tetangga sebelah atau seberang rumah kita. Kami
sudah memberitahu mereka tadi,” ayahku menambahkan.
Apa???
Tetangga seberang rumah? Aku baru tahu rumah itu ada penghuninya, tapi siapa
mereka? Apakah mereka juga manusia?
Lonceng
berbunyi, semua siswa mulai berhamburan ke luar kelas. Rasanya aku malas sekali
pulang hari ini. Kukayuh sepedaku dengan lemas. Sampai akhirnya aku tiba di
depan rumahku. Dan di depan rumah angker itu. Aku berusaha menghilangkan rasa
takutku dan mulai berpikiran bahwa rumah itu bukan rumah angker seperti yang
teman-temanku katakan. Namun, pikiran itu sekejap hilang ketika aku melihat
seseorang sedang mengintip dari jendela atas rumah itu. Tubuhnya kurus dan
tatapannya tajam seperti elang. Dia menyeringai ke arahku. Kakiku langsung
lemas, rasanya sulit sekali untuk mengayuh sepedaku menuju halaman rumah. Tapi,
kupaksakan kakiku dengan sekuat tenaga untuk tetap mengayuh sepeda dan akhirnya
berhasil! Aku langsung masuk rumah dan mengunci semua pintu dan jendelanya.
Keesokan paginya kuceritakan semua yang
kualami kemarin pada Alvin.
”Benarkah?
Kau melihat seseorang di rumah itu? Jangan-jangan dia adalah salah satu hantu
penunggu rumah angker itu. Hhiii...” Alvin berlagak seperti ketakutan.
”Ya,
sungguh aku melihatnya. Tapi apa kau yakin rumah itu benar-benar angker? Ayah
dan ibuku bilang bahwa kemarin mereka sudah sempat ngobrol dengan pemilik rumah
itu. Kupikir, penghuninya cuma orang biasa,” kataku meyakinkan Alvin, padahal
diriku sendiri tidak yakin.
”Kurasa
kau benar. Mungkin cerita
bahwa rumah itu angker hanya karangan teman-teman saja. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?”
”Bagaimana
caranya?” tanyaku.
”Malam
ini aku akan menginap di rumahmu dan akan kita cari tahu siapa sebenarnya
penghuni rumah itu. Bagaimana? Apa kau setuju?” tanya Alvin begitu semangat.
”Baiklah,”
akhirnya aku pun menyetujuinya.
* * *
Malam
pun tiba. Aku dan Alvin pun berencana mengintip rumah itu. Ya, hanya mengintip.
Kami pun mulai masuk ke halaman rumah itu. Rumah itu benar-benar gelap, hanya
ada satu lampu yang menyala yaitu lampu di ruang atas. Sepertinya, penghuninya
sedang tidak ada di rumah. Rumah itu kelihatan
bobrok, atap kayunya sudah lapuk, cat rumahnya pun sudah pudar. Kami berjalan
di halaman rumah itu yang dipenuhi rumput-rumput tinggi. Sepertinya halaman ini
tak pernah dibersihkan, pikirku. Kami menuju pintu belakang rumah.
”Hei,
sepertinya pintu ini tidak terkunci. Tak ada salahnya kan kalau kita masuk
sekedar untuk melihat-lihat,” Alvin berkata sambil mengintip ke dalam rumah.
”Kau
sudah lupa ya? Kita kan ke sini cuma untuk mengintip, bukan untuk masuk
diam-diam. Kita bisa disangka
maling kalau masuk,” jawabku dengan setengah ketakutan.
”Kau tidak penasaran? Kita akan tahu lebih
banyak tentang rumah ini kalau kita melihat isinya. Kalau aku masuk, apa kau
berani menunggu di luar sendirian?” Alvin berkata seolah-olah mengejekku.
”Baiklah, tapi kita harus
segera pulang setelah yakin bahwa rumah ini benar-benar tidak angker.”
Alvin
menyalakan lampu dapur. Piring-piring tampak tersusun rapi di raknya. Sekeranjang buah segar ada di atas meja
makan berbahan kayu. Lalu kami masuk mengendap-endap ke ruang tengah. Tampak televisi 21 inch terletak di atas
meja, pigura-pigura terpajang di dinding kayu. Dan kulihat sebuah foto seorang
lelaki tua berbadan kurus. Rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya. Ya, kemudian
aku ingat. Lelaki tua itu adalah orang yang pernah kulihat beberapa kali sedang
mengintip dari jendela atas rumah ini. Tatapannya yang tajam membuatku takut
setengah mati. Tiba-tiba Alvin menjatuhkan sebuah pigura sehingga kacanya
hancur berkeping-keping.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.
”Aku benar-benar tidak sengaja,” jawab
Alvin ketakutan.
Namun,
percakapan kami terhenti setelah kami mendengar suara langkah kaki di tangga.
Langkah kaki yang berat. Aku dan Alvin saling menatap. Kami ketakutan.
Jantungku serasa berhenti berdetak, kakiku lemas, bibirku kelu. Langkah kaki
itu semakin dekat. Kulihat bayangan kaki yang kurus sedang menuruni tangga ke arah kami. ”Bagaimana
ini?” tanya Alvin, wajahnya pucat.
”Satu-satunya
cara adalah kita harus lari dari rumah ini,” lidahku terasa sulit untuk berkata-kata.
Aku dan Alvin langsung berlari secepat
kilat menuju pintu belakang. Kutarik kenop pintu dan kuputar beberapa kali.
Sial! Pintunya macet. Kakiku makin terasa lemas, wajah Alvin tampak pucat
seperti mayat. Langkah kaki itu makin terasa dekat.
”Ayo kita dobrak pintu ini,” ajakku. Kami
berusaha sekuat tenaga mendobrak pintu itu agar kami bisa keluar dari rumah
menyeramkan ini. Dan akhirnya kami berhasil. Badanku terasa sakit, tapi itu
tidak mengapa dibandingkan harus terkurung di rumah menyeramkan itu. Kami
berlari keluar dari rumah itu, tapi sepertinya langkah kaki itu terus mengikuti
kami sampai keluar rumah. Kami terus berlari ketakutan menuju rumahku di
seberang. Kami ketakutan sampai tidak berani menoleh ke belakang. Kurogoh saku
celanaku untuk mengambil kunci rumah. Tapi, nihil. Kunci rumahku tak ada di
saku celanaku.
”Cepat
buka pintunya Rio!!” Alvin berteriak.
”Kuncinya
hilang. Tidak kutemukan di sakuku. Bagaimana ini?” aku menjawab dengan panik.
”Ayo kita coba lewat pintu belakang,” ajak
Alvin.
Kuputar
kenop pintu beberapa kali dan tampaknya sama seperti pintu di rumah angker itu,
macet. Alvin mencobanya juga dengan keras dan berhasil dibuka olehnya. Kami
langsung masuk ke rumahku. Tapi belum sempat kami bernapas lega, tiba-tiba
pintu itu terbanting hingga menjepit lengan Alvin.
”Awww...”
Alvin meronta kesakitan.
Aku
segera membawanya ke kamar dan mengambil kotak P3K untuk mengobatinya.
* * *
Keesokan
paginya, ayah dan ibuku pulang. Mereka belum tahu apa yang kami alami semalam. Mereka
terkejut melihat tangan Alvin terluka.
”Apa yang terjadi semalam
Rio?” tanya ibuku
dengan penuh rasa cemas.
“Tangan Alvin terjepit karena pintu belakang
terbanting,” jawabku.
”Oh,
maafkan kami Nak. Ibu lupa memberi tahu kalau pintu belakang itu rusak dan Ayah
belum sempat memperbaikinya,” ibu memberitahu kami.
”Tidak apa-apa Tante,
sekarang sudah agak mendingan kok,” jawab Alvin.
”Kalian sudah sarapan?”
tanya ibuku.
”Belum.”
Kami
menuju ruang makan dan menunggu ibuku menyiapkan sarapan untuk kami. Tiba-tiba
bel rumah berbunyi.
”Tunggu
sebentar,” ayahku bergegas menuju pintu depan.
”Oh, Pak Freddy. Ada keperluan apa Pak?” tanya
ayahku.
”Maaf
mengganggu pagi-pagi. Saya ingin mengembalikan kunci rumah Anda. Sepertinya
anak Anda dan temannya menjatuhkannya di rumah saya semalam,” lelaki tua itu
berkata sambil menyerahkan sebuah kunci rumah.
”Oh, apa yang terjadi
semalam Pak?”
”Anak
anda dan temannya kemarin malam masuk ke rumah saya lewat pintu belakang yang
tidak terkunci. Mungkin mereka menyangka rumah saya itu angker. Biasa,
anak-anak remaja zaman sekarang selalu ingin tahu,” jawab lelaki tua itu dengan
ramah.
Ayah
memanggil aku dan Alvin dan kami pun meminta maaf atas kejadian kemarin malam
kepada Kakek Freddy. Ternyata, rumah itu dihuni oleh Kakek Freddy, dia adalah
seorang keturunan Belanda. Dia tidak suka keluar rumah, mungkin karena tubuhnya
yang sudah renta. Tapi sekarang aku lega karena rumah itu tidak angker. Ya, aku
dan Alvin telah membuktikannya sendiri.
* * *
Keesokan
paginya di sekolah, aku dan Alvin menceritakan petualangan kami malam itu.
”Jadi,
rumah itu tidak angker sama sekali. Rumah itu dihuni oleh seorang lelaki tua
yang biasa dipanggil Kakek Freddy,” aku memberitahu teman-temanku yang lain.
”Ya,
benar. Kakek Freddy jarang keluar rumah karena kondisi tubuhnya yang sudah
renta. Tapi, ternyata dia orang yang sangat ramah,” Alvin menambahkan.
”Semua orang juga tahu tentang Kakek
Freddy. Rumahnya memang tidak angker. Kau baru tahu ya Alvin? Kau kan sudah
lama tinggal di sini,” ucap salah seorang anak cewek bernama Nova.
”Alvin
itu memang tidak tahu apa-apa. Hahaha,” Ozy tertawa.
”Tapi
kau kan kemarin bilang bahwa rumah angker itu ada di ujung jalan seberang kanan?
Kau ingat kan Ozy?” tanyaku.
”Apa?
Ozy berkata begitu?” tanya Nova heran. ”Hei, Ozy! Kamu bisa gak sih membedakan
yang mana kanan dan mana kiri? Rumah angker itu berada di seberang kiri. Ya, di
seberang rumah Kakek Freddy. Rumah tua yang penuh dengan ukiran-ukiran aneh
itu,” Nova menjelaskan.
”Hehe,
maaf, maaf... Ya, kau benar Nova. Rumah yang berada di seberang kiri lah yang
angker. Semua orang juga tahu, rumah itu dipenuhi hantu. Hantu-hantu yang penuh
kemarahan,” jawab Ozy.
“Ya
benar. Tak ada seorang pun yang selamat dalam rumah itu. Hhiiii...” Nova
menambahkan.
Aku
dan Alvin terkesiap. Kakiku lemas, jantungku rasanya mau copot, dan tiba-tiba
aku teringat perkataan ibu dan ayahku beberapa hari yang lalu bahwa mereka
ingin tinggal di rumah baru kami untuk selamanya. Selamanya...
”Hei
Rio! Apakah kami boleh berkunjung ke rumahmu hari ini? Kami ingin tahu dimana kamu tinggal. Boleh ya?” tanya Ozy.
* * *
Inspired by Goosebumps by R.L.Stine

Tidak ada komentar:
Posting Komentar